Hidup itu indah

Posted: December 1, 2011 in " Sastra "

Hidup itu indah

Jika Allah selalu di hati

Karena Allah…

Membaguskan yang buruk

Menyembuhkan yang sakit

Melapangkan yang sempit

Mengayakan yang miskin

Meringankan yang berat

Hingga hidup menjadi indah

Seindah ciptaanNya..

Hidup itu perjuangan

Jika Allah selalu di hati

Karena Allah…

Maha Menatap

Maha Mendengar

Maha Tahu

Hingga aku ta’ bisa lari dari-Nya

dengan menuruti hasratku..

Hidup itu tenang

Jika Allah selalu di hati

Karena Allah adalah Penenang Sejati

Hingga galau, risau, dan juga gelisah lenyap

Saat aku ingat cintaNya…

Hidupku adalah izinNya

Sudah seharusnya aku berbakti padaNya Apapun yg DIA berikan

Aneh kiranya cinta untukNya terbagi dgn yg lain

Sedangkan nikmatNya, cintaNya, untukku Tiada pernah terbagi

Aneh juga kiranya jika hati menjadi risau dan galau

Sedangkan petolonganNya begitu dekat..

Aku harus tegar

Aku juga harus tegas

Hingga Rasul bangga melihatku

berjalan dimuka bumi dengan tegar dan tegas ku

Namun semuanya itu tidak berarti tanpa ada sebuah kesabaran

Karena Allah senantiasa bersama orang2 yang sabar

Sabar menghadapi segalanya

Karena Allah selalu dihati

Hingga yakin Allah Yang Maha Pengasih akan membantuku

Andai Allah sudah dihati

Tiada masalah yang tidak dapat teratasi

Allah Maha Berkuasa

DIA memungkinkan yang tidak dan tidak Memungkinkan yang mungkin

Semua kejadian karena izinNya, kasih dan cinta-Nya

Allah Maha Baik dan DIA selalu memberi yg terbaik untukku

Allah Maha Indah dan DIA selalu memberi yg terindah untukku

Cukup serahkan segala urusan padaNya Karena DIA Penentu Sejati

Hingga aku tak mengenal risau, galau, apalagi gelisah…

Jadilah Pelita

Posted: December 1, 2011 in " Pena Ku "

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”

Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.

Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

***

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”

Si buta tertegun. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

***

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.”

Senyap sejenak. Secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

***

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”

***

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Disenja hari yang tak terlupakan
Kupangku jasad mungil buah hatiku yang terkulai
Dalam kehampaan dan penyesalan yang teramat
Aku terus saja memandangi wajah polosnya
Dalam mata nanar…. dalam sentuh jemari yang bergetar;
Kurapatkan tubuh dan kupeluk dirinya
Lalu dengan lembut kubisikkan padanya:
“Maafkan ayah anakku, Ayah telah gagal menyembuhkan sakitmu!”,

Bila ruhmu-pun kini tlah sampai kepadaNya, katakan saja dengan jujur padaNya :
“Ayahku seorang pengusaha sukses yang hidupnya dari memungut sampah
Walaupun demikian; dia tetap berjuang untukku!
Aku memang sakit, tetapi sakitku, sakitnya juga, Penderitaanku penderitaannya juga!”

“Wahai Penciptaku…
Aku tak pernah bisa memilih Kau lemparkan aku kerahim yang mana…….
Ini semua terjadi atas takdirmu ….dan atas takdirMu jualah aku “hidup dan mati” dalam pelukannya…..
Maka ampunilah ia, tegarkanlah hatinya untuk melayari hidup ini -walau tanpa diriku,
Biarlah kecup hangat terakhir didahiku; menjadi bara cinta abadi yang senentiasa menghangati jiwaku…..
Dari dekap hangat tulus bajunya yang lusuh,
biarlah itu menjadi kaffan terindah yang kelak kukenakan disurga!
Dari airmatanya yang menitik; kelak menjadi air suci yang memandikan jasadku yang lara !”

“Maka perkenankan tobatnya dan maafkanlah ia – wahai Tuhanku!
Pabila Engkau tak terima atas kematianku; Engkau bisa menegurnya lewat halilintar……..
Sambarlah gubuknya yang kumuh……
biar harta berharga yang tersimpan darinya membuncah keluar…………
Agar darinya ia dapat memberiku obat ; serta sedikit makanan bergizi dan juga susu untukku!”

“Wahai Tuhanku.Yang Maha Pemberi!
Walau aku hanya sekejab menemani dirinya
Berilah ia anak pengganti yang lebih tegar selain diriku
Maka ijinkanlah aku senantiasa menari dalam kelopak matanya yang basah
Biarlah tawa teduhku, menjadi penghibur atas segala : suka, duka dan juga citanya”

“Maka Ya Allah,……………
Anugerahkanlah ia pengganti sebagai teman canda dalam ketersendiriannya; pelipur lara atas segala duka citanya
Tetapi Ya Allah, pabila ia belum mendapatkan kebahagiaannya,
Maka ijinkanlah aku senantiasa menjadi bunga yang menghias dan memagari gubuknya;
selamanya aku hidup serta merekah dalam taman hatinya!”………

 

Ana Khairun Minhu

Posted: November 30, 2011 in " Pena Ku "

Sombong, barangkali sama tuanya dengan peradaban manusia. Iblis dikutuk dan dikeluarkan dari surga juga lantaran sombong. Ia menolak bersujud kepada Adam as, manusia pertama, karena merasa dirinya lebih baik.

Allah berfirman: ‘Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang (yang) lebih tinggi?’ Iblis berkata: ‘Aku lebih baik daripadanya, karena engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah’. (Shaad: 75-76).

“Ana khoirun minhu (Saya lebih baik dari dia),” kata Iblis. Merasa diri lebih baik dari pada yang lain itulah sombong. Dan akibat sombong, iblis dikutuk.

Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (Shaad: 77-78).

Kita berlindung kapada Allah dari perbuatan sombong, baik dalam bentuk sifat, sikap maupun perilaku, karena ia dapat menjadi penghalang masuk jannah. Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk jannah seseorang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong (kibr) meskipun hanya sebesar biji sawi.” (HR Muslim).

Berhati-hatilah kita, karena sifat, sikap, dan perilaku merasa lebih baik, lebih mulia bisa menimpa siapa saja. Seorang tokoh yang memiliki pengikut banyak, reputasi yang luas juga berpotensi untuk menyombongkan diri lantaran ketokohannya dan pengikutnya yang banyak. Seorang yang memiliki tubuh kuat, atletis, jawara, kadang tergoda memamerkan bentuk tubuhya, disamping tidak jarang gampang terpancing perkelahian, dalam urusan kecil sekalipun, hanya lantaran merasa dirinya pendekar. Seorang rupawan juga kadang tergoda untuk membanggakan kecantikannya dan meremehkan yang tidak seganteng dan secantik dirinya, bahkan sampai mencacat bentuk fisik orang lain. Seorang hartawan sering tergoda membanggakan pakainnya yang bagus, kendaraannya yang mewah, rumahnya yang mentereng dengan melihat sebelah mata pada kaum alit yang kumal, kotor, kolot dan pinggiran. Seorang pejabat yang kebetulan pangkatnya lebih tinggi kadang merasa lebih baik dari bawahannya. Presiden merasa lebih baik dari menteri, jenderal merasa lebih baik dari kopral, direktur merasa lebih baik dari karyawan dan seterusnya.

Sifat sombong juga dapat menimpa ahli ibadah. Sosok yang secara dhahir wara’, zuhud, bertahajud setiap hari, berpuasa senin-kamis, rawatibnya tidak pernah tertinggal. Karena salatnya rajin sekali hingga jidatnya hitam. Namun, ternyata ia tergoda untuk menganggap dirinya orang yang paling suci, paling baik, paling takwa. Orang lain dianggap tidak ada apa-apanya dibanding dia.

Rasa sombong juga dapat menghinggapi ilmuwan. Ilmunya setinggi langit, titelnya profesor doktor, hafal Alquran, dapat berbicara dalam banyak bahasa. Tetapi, ia tidak sabar untuk menahan dirinya merasa lebih baik dari masyarakatnya. Seorang bangsawan, karena merasa berasal dari keturunan yang mulia, aristokrat, darah biru, kadang merasa tidak sepadan jika harus bersanding, bergaul dengan yang bukan bangsawan. Dapat menurunkan derajat, katanya. Tak peduli, yang dinggap sebagai tidak selevel itu sosok berilmu sekalipun. Tak jarang, dalam pergaulan sering juga muncul kalimat yang konotasinya merendahkan, seperti “Hai Irian! Hai Dayak! Hai anak si Anu…!”

Berhati-hatilah…!
Kisah Abu Dzar patut kiranya menjadi pelajaran. Suatu ketika beliau sedang marah kepada seorang laki-laki sampai terucap, “Hai anak wanita hitam.” Rasulullah mendengar hal itu, kemudian bersabda, “Wahai Abu Dzar, tidak ada keutamaan bagi kulit putih atas kulit hitam,” (dalam riwayat lain ditambahkan, “melainkan karena takwa”). Mendengar hal itu Abu Dzar sangat menyesal hingga meminta orang tadi untuk menginjak pipinya. (HR Imam Ahmad).

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18).

Perihal sombong, Rasulullah mendefinisikan dalam sebuah riwayat, “Kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim). Dua kata kuci: menolak kebenaran dan meremehkan manusia, itulah sombong. Ketika ada rasa ingin menonjolkan dan membanggakan diri, ketika hati kita keras menerima nasihat terlebih dari yang lebih yunior, ketika pendapat kita enggan untuk dibantah bahkan tidak jarang dipertahankan dengan dalil yang dipaksakan, ketika kita tersinggung tidak diberi ucapan salam terlebih dahulu, ketika kita berharap tempat khusus dalam sebuah majlis, ketika kita tersinggung titel dan jabatan yang dimiliki tidak disebut, maka jangan-jangan virus takabbur telah meracuni diri kita.

Imam Ghozali mengajari cara mawas diri agar tidak terjebak dalam sikap merasa lebih baik. Ketika kita melihat seseorang yang belum dewasa, kita bisa berkata dalam hati: “Anak ini belum pernah berbuat maksiat, sedangkan aku tak terbilang dosa yang telah kulakukan, maka jelas anak ini lebih baik dariku.” Ketika kita melihat orang tua, “Orang ini telah beramal banyak sebelum aku berbuat apa-apa, maka sudah semestinya ia lebih baik dariku.” Ketika kita melihat seorang ‘alim, “Orang ini telah dianugerahi ilmu yang tiada kumiliki, ia juga berjasa telah mengajarkan ilmunya. Mengapa aku masih juga memandang ia bodoh, bukankah seharusnya aku bertanya atas yang perlu kuketahui?” Ketika kita melihat orang bodoh, “Orang ini berbuat dosa karena kebodohannya, sedangkan aku? aku melakukannya dengan kesadaran bahwa hal itu maksiat. Betapa besar tanggung jawabku kelak.

Lantas, atas dasar apa kita membanggakan diri? Bukankah dunia ini bersifat fana? Bukankah kekayaan, pangkat, kecantikan, keturunan, pengikut, dan ilmu merupakan anugerah Allah yang bersifat sementara? tidak permanen? dan dapat dicabut sewaktu-waktu jika Allah mengendaki? Lagi pula, bukankah yang dilihat oleh Allah adalah ketakwaan seorang hamba? dan bukan kekayaan, pangkat, fisik, keturunan? Maka adalah aneh sikap anak manusia yang merasa ana khairun minhu.

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tahukah kita..??

Posted: November 30, 2011 in " Pena Ku "

 

 

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa mengoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah……

Seringai Senja

Posted: November 28, 2011 in " Sastra "

 

 

 

 

 

 

 

Surya kembali merunduk malu
memamerkan senyum sumringah
menyambut gelap….
bersama sekawanan camar

Walau sekejap….
terawang awan putih mampu biaskan
kemilau sinar kemerahan
yang terpantul di pucuk-pucuk pohon

Pun….
ketika pekat datang membentang
atau hitam mulai menggulung mimpi
setitik nyata masih tersisa
di antara gunung dan laut
yang tampak menenggelamkan dirinya
menerbitkan siluet Sang Pelukis Agung

Aku ingin seperti surya di ufuk barat
tersenyum manis bersama perih
biar terasa pahit menikam
tapi, pesona itu………
mampu bersemayam dalam setiap jiwa
insan pemikat keindahan….

Kelinci Yang Cerdik

Posted: November 28, 2011 in " Pena Ku "

   Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai, Tiba tiba datang se-ekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci itu berkata: “Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang.” Sang Rubah jantan merasa tertantang, “di manapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?” Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.

Sang Kelinci kembali bersantai, Sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata : “Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang. “Sang serigala merasa tertantang, di manapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?”
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.

Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri di atas pasir, Tiba tiba datang seekor beruang besar yang hendak memangsanya,
Lalu kelinci berkata: “Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang. “Sang Beruang merasa tertantang, “dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?”
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan nikmat.


Pohon kelapa melambai lambai, Lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai, Sang Kelinci melongok ke dalam lubang kelinci, sambil melambai “Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan!!”
Keluarlah seekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap Harimau berkata ” Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang Dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang.”

The Winner selalu berfikir mengenai kerja sama, sementara
The Looser selalu berfikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.
Untuk membentuk ikatan persahabatan dan persaudaraan harus ada kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama:
(MESKIPUN) DENGAN SESEORANG YANG KELIHATANNYA TIDAK LEBIH BAIK DARI KITA